Minggu, 23 November 2014

Gaya Hidup Masyarakat Sumenep Ketika Hendak Melakukan Hajatan



Gaya hidup tampaknya kerap membebani masyarakat Sumenep untuk menunjukkan kepada masyarakat  lain bahwa  mereka mampu melakukan suatu hajatan besar dalam  memeriahkan “perkawinan” anak-anaknya, meski harus dilakukan jauh jauh hari.
Sebagaimana tradisi pengantin masyarakat Sumenep umumnya, dalam menentukan perjodohan dumulai dari ngen-angenan atau kabhar, yaitu orang tua berusaha untuk mencari calon isteri untuk anaknya yang kelak dan berkeinginan mencari pasangan hidup dengan meminta bantuan kepada seseorang yang disebut dengan pangade’, kemudian dilanjutkan  arabas paghar, yaitu peran sang pangade’ mencari keterangan calon pengantin yang diincarnya melalui tetangga atau kerabat, setelah melalui proses awal yang begitu panjang maka dimulailah proses lanjutan yang disebut masa bertunangan alias abakalan, lalu nyaba’ jhajan atau lamaran dan seterusnya sampai pada resepsi perkawinan sebagai kisah diatas. Namun tidak menutup kemungkian terjadinya perjodohonan ini tanpa “dibantu” pangade’, tapi kesepakatan secara langsung kedua belah pihak.
Namun demikian kerap yang terjadi pilihan calon suami atau istri jatuh pada orang-orang dekat, yaitu keluarga dekat atau famili, bahkan  persaudaraan yang tidak terikat muhrim. Hal ini untuk menjadi kesinambungan kekeluargaan, dan sudah jelas teruji bebet, bobot dan bibitnya, serta urusan warisan yang nantinya tidak akan jatuh pada pihak atau keluarga orang lain.
Mengingat peristiwa ini menjadi gaya hidup, biayanya prosesi akan memakan nominal cukup besar. Menjadi kebanggaan tersendiri bagi tuan rumah bila pada saat perayaan macam ini bisa memotong 3 – 5 sapi serta mengundang sekian ratus bahkan ribu orang untuk hadir dan menyaksikan resepsi pengantin ini.
Namun tentu hajat besar ini tidak dilakukan dengan cara resepsi, namun umumnya dilakukan dengan mengundang “jam sehari”, yaitu selama satu hari itu (bahkan sampai 3 hari) terundang bisa hadir setiap saat, pagi, siang, sore atau malam hari, dengan cara lesehan. Kadang pula didatangkan pula klenengan dan tayub (tetabuhan gamelan),topeng dhalang,dan lodrok..