Jumat, 12 Desember 2014

Anngasuto Cikal Bakal Masyarakat Desa Pinggirpapas




Anggasuto merupakan salah satu sisa balatentara Bali yang kalah perang dengan kerajaan Sumenep yang masih hidup dan melarikan diri ke desa Pinggirpapas dengan teman-teman balatentaranya yang masih hidup. Mereka mendapatkan pengampunan dari Raja sumenep untuk tinggal di desa Pinggirpapas dan sejak itulah Anggasuto dan teman-temannya menjadi cikal bakal dan tokoh masyarakat di desa Pinggirpapas. Awalnya desa Pinggirpapas merupakan daerah yang sangat tandus. Keadaan geografis desa Pinggirpapas letaknya di dataran rendah dan berbatasan dengan laut, seringnya air laut menggenangi desa Pinggirpapas sehingga tidak memiliki sumber air bersih,maka tidak cocok untuk dijadikan pertanian di bidang agraris oleh masyarakat.
Anggasuto dikatakan sebagai cikal bakal oleh masyarakat desa Pinggirpapas karena telah memberikan pengetahuan bagaimana mengelolah lahan yang tandus dan digenangi oleh air laut menjadi sumber kehidupan dan kesejahteraan masyarakat desa Pinggirpapas sekitar tahun 1568-an. Awal Anggasuto menemukan endapan air laut yang berupa kristal dan ternyata adalah garam, hal ini tentunya Anggasuto dibekali adanya pengetahuan tentang garam. Anggasuto dengan cermat mempelajari proses pengkristalan air laut tersebut dengan keyakinannya bahwa garam ini nantinya memberikan sumber kehidupan bagi masyarakat, maka Anggasuto mencoba membuat garam dari air laut. Proses pembuatan awal, Anggasuto membuat enam kotak yang berisi air laut. Keesokan harinya pada salah satu kotak itu ada warna putih yang mengendap dan mengkristal. Keadaan yang seperti itu berlanjut sehingga keenam kotak tersebut menjadi warna putih yang mengendap dan menkristal. Jadi semua kotak yang dibuat oleh Anggasuto semuanya berhasil. Penggaraman rakyat sampai sekarang ini terdiri dari enam kotak sebagai syarat penggaraman. Masyarakat desa Pinggirpapas meyakini apabila penggaraman tidak terdiri dari enam kotak maka hasil dari penggaraman tidak berhasil. Seterusnya dari kejadian tersebut, Anggasuto bersama-sama masyarakat setempat membuat talangan. Beliau kemudian berkata bahwa kalau bulan depan atau dalam berikutnya air laut dalam talangan itu dapat menjadi garam lagi,beliau akan melakukan Nyadhar (selamatan tasyakuran). Ternyata usaha tersebut tidak sia-sia air laut yang ada dalam talangan menjadi garam. Atas peristiwa-peristiwa tersebut masyarakat Pinggirpapas mengakui bahwa Anggasuto sebagai penemu garam, yaitu sebagai ilmuwan yang mampu mengamati dan memberi pelajaran kepada masyarakat desa Pinggirpapas mengenai cara memproduksi garam.



SUMBER: www.google.com

Budaya Upacara Nyadar di Desa Pinggir Papas




Sejarah Singkat Upacara Nyadar
Asal-usul dari tradisi upacara nyadar yang diselenggarakan oleh masyarakat Desa Pinggirpapas tidak lepas dari tokoh yang bernama Anggasuto. Menurut masyarakat tradisi nyadar bukan hanya sebuah penghormatan kepada leluhur (Anggasuto), akan tetapi sebagai wujud terima kasih karena sebagai pembuat garam pertama sehingga dengan melaksanakan upacara nyadar masyarakat berharap dapat memperoleh keselamatan dan panen selanjutnya lebih baik.

Upcara Nyadar
Upacara Nyadar merupakan upacara selamatan atau syukuran. Upacara Nyadar sudah dilakukan sejak ditemukannya garam di daerah Pinggirpapas
, di laksanakan 2 atau 3 hari dalam se tahun, antara bulan Juli sampai dengan Oktober. Oleh karena itu sudah sepantasnya dan menjadi kewajiban masyarakat desa Pinggirpapas untuk menghormati dan melaksanakan tradisi leluhurnya.
masyarakat desa Pinggirpapas selalu merayakan upacara nyadar. 

Manfaat Upacara Nyadar
Upacara Nyadar merupakan upacara untuk mensyukuri rizki dan wujud terima kasih terhadap Anggasuto sebagai pembuat garam pertama sehingga dengan melaksanakan upacara nyadar masyarakat berharap dapat memperoleh keselamatan dan panen selanjutnya lebih baik. Selain itu upacara nyadar juga dilakukan untuk melanjutkan tradisi yang dilakukan oleh leluhurnya.

Minggu, 23 November 2014

Gaya Hidup Masyarakat Sumenep Ketika Hendak Melakukan Hajatan



Gaya hidup tampaknya kerap membebani masyarakat Sumenep untuk menunjukkan kepada masyarakat  lain bahwa  mereka mampu melakukan suatu hajatan besar dalam  memeriahkan “perkawinan” anak-anaknya, meski harus dilakukan jauh jauh hari.
Sebagaimana tradisi pengantin masyarakat Sumenep umumnya, dalam menentukan perjodohan dumulai dari ngen-angenan atau kabhar, yaitu orang tua berusaha untuk mencari calon isteri untuk anaknya yang kelak dan berkeinginan mencari pasangan hidup dengan meminta bantuan kepada seseorang yang disebut dengan pangade’, kemudian dilanjutkan  arabas paghar, yaitu peran sang pangade’ mencari keterangan calon pengantin yang diincarnya melalui tetangga atau kerabat, setelah melalui proses awal yang begitu panjang maka dimulailah proses lanjutan yang disebut masa bertunangan alias abakalan, lalu nyaba’ jhajan atau lamaran dan seterusnya sampai pada resepsi perkawinan sebagai kisah diatas. Namun tidak menutup kemungkian terjadinya perjodohonan ini tanpa “dibantu” pangade’, tapi kesepakatan secara langsung kedua belah pihak.
Namun demikian kerap yang terjadi pilihan calon suami atau istri jatuh pada orang-orang dekat, yaitu keluarga dekat atau famili, bahkan  persaudaraan yang tidak terikat muhrim. Hal ini untuk menjadi kesinambungan kekeluargaan, dan sudah jelas teruji bebet, bobot dan bibitnya, serta urusan warisan yang nantinya tidak akan jatuh pada pihak atau keluarga orang lain.
Mengingat peristiwa ini menjadi gaya hidup, biayanya prosesi akan memakan nominal cukup besar. Menjadi kebanggaan tersendiri bagi tuan rumah bila pada saat perayaan macam ini bisa memotong 3 – 5 sapi serta mengundang sekian ratus bahkan ribu orang untuk hadir dan menyaksikan resepsi pengantin ini.
Namun tentu hajat besar ini tidak dilakukan dengan cara resepsi, namun umumnya dilakukan dengan mengundang “jam sehari”, yaitu selama satu hari itu (bahkan sampai 3 hari) terundang bisa hadir setiap saat, pagi, siang, sore atau malam hari, dengan cara lesehan. Kadang pula didatangkan pula klenengan dan tayub (tetabuhan gamelan),topeng dhalang,dan lodrok..

Sabtu, 25 Oktober 2014

Budaya Pangantan Jaran di Desa Kalianget Timur




 
    atraksi pangantan jaran setelah selesai diarak.

Tradisi atau kebiasaan yang kerap terjadi di tengah masyarakat  tradisional, kadang dianggap aneh, tidak lazim bahkan menjadi lucu. Hal ini pula yang terjadi di masyarakat.



Salah satu kerabat famili dari pihak pengantin wanita,
 serta kuda yang akan di arak keliling kampung

Pangantan jaran yang Diarak

      Pangantan jaran yang di arak

Keramaian di bawah terop dan suara loudspeeker yang nyaring saja tidaklah lengkap tanpa diawali dengan arak-arakan sang mempelai. Dimulai dan diberangkatkan dari rumah besan (mempelai laki-laki) menuju tempat hajatan, maka diarakkan pengantin itu dengan menunggang kuda, yaitu kuda kenca’ atau kuda serek dengan iringan musik saronen.
Pada  saat itulah, pergelaran menjadi menarik, sang kudapun menari-nari mengikuti irama saronen.
Namun kerap yang terjadi, iringan-iringan itu tidak langsung menuju ke pelaminan, akan tetapi di arak ke tempat makam para sesepuh (mbah, kakek, nenek,buyut) mereka untuk minta doa serta restu dari yang sudah meninngal. Konon katanya, mereka yang sudah meninggal, ikut menyaksikan  pertunjukan pangantan jaran  tersebut. Baru pada malam harinya, kedua mempelalai di didudukkan disinggasana pelaminan.

    Ziarah ke makam sesepuh

Uniknya meski yang punya hajat harus mengeluarkan anggaran cukup besar, namun demikian secara berlanjut perayaan hajatan pengantin macam itu terus berlangsung dan sampai sekarang masih tetap berlangsung.
Selain itu, di desa kalianger timur ada tradisi yang juga menjadi bagian dari proses hajatan perkawinan, yaitu tradisi tompangan (tumpangan), yaitu sejumlah pihak (sanak famili, kerabat tetangga, atau terundang) yang dengan sengaja menyerahkan tumpangan uang (atau bentuk barang: beras, sapi, gula dll) dengan nominal cukup besar, sehingga suatu saat bila yang menyerahkan tumpangan itu punya hajat tentu untuk si penerima tumpangan akan mengembalikan senilai yang diberikan.
                    
Bahkan ini berlaku kepada siapa saja yang terundang apabila patolong (sumbangan)nya kecil, tentu nanti bila giliran kembaliannya akan kecil pula. Karna dari itu, hajatan besar-besaran sekedar untuk meramaikan “perkawinan” anak-anaknya, karena investasi yang dimiliki banyak berada di tangan orang lain.

Tarif untuk menyewa kuda sekaligus hiasan berkisar Rp.300.000;
lain dengan perangkat saronennya. Tarif untuk menyewa perangkat saronen Rp.4.000.000; Jadi untuk menyewa semua berkisar Rp.4.300.000;

Macopat/Macapat (Mamaca)



Karakteristik Tembang Macapat Madura
Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra , dan setiap gatra mempu
nyai sejumlah suku kata ( guruwilangan ) tertentu, dan berakhir pada bunyi sanjak akhir yang disebut guru lagu . Macapatdengan nama lain juga bisa ditemukan dalam kebudayaan Bali , Sasak , Madura, dan Sunda. Selain itu macapat juga pernah ditemukan di Palembang dan Banjarmasin. Biasanya macapatdiartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membacaterjalin tiap empat suku kata. Namun ini bukan satu-satunya arti, penafsiran lainnya ada pula.Macapat diperkirakan muncul pada akhir Majapahit dan dimulainya pengaruhWalisanga, namun hal ini hanya bisa dikatakan untuk situasi di Jawa Tengah. Sebab di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenal sebelum datangnya Islam.Karya-karya kesusastraan klasik Jawa dari masa Mataram Baru, pada umumnya ditulismenggunakan metrum macapat. Sebuah tulisan dalam bentuk prosa atau gancaran padaumumnya tidak dianggap sebagai hasil karya sastra namun hanya semacam 'daftar isi' saja. Beberapa contoh karya sastra Jawa yang ditulis dalam tembang macapat termasuk Serat Wedhatama , Serat Wulangreh , dan Serat Kalatidha. Puisi tradisional Jawa atau tembang biasanya dibagi menjadi tiga kategori: tembang cilik , tembang tengahan dan tembang gedhĂ©. Macapat digolongkan kepada kepada kategori tembang cilik dan juga tembang tengahan , sementara tembang gedhĂ© berdasarkan kakawin atau puisi tradisional Jawa Kuna, namun dalam penggunaannya pada masa Mataram Baru, tidak diterapkan perbedaan antara suku kata panjang ataupun pendek. Di sisi lain tembang tengahan juga bisa merujuk kepada kidung, puisi tradisional dalam bahasa Jawa Pertengahan.Kalau dibandingkan dengan kakawin, aturan-aturan dalam macapat berbeda dan lebihmudah diterapkan menggunakan bahasa Jawa karena berbeda dengan kakawin yang didasarkan pada bahasa Sanskerta, dalam macapat perbedaan antara suku kata panjang dan pendek diabaikan.

Seni membaca tembang yang berasal dari tanah Jawa ini juga berkembang sampai kePulau Madura. Namun, kini mulai terpinggirkan dan ditinggal masyarakatnya, khususnya diMadura. Mengapa? Macapat mengandung makna dalam. Dengan mendengarnya, bisamenyejukklan hati. Apalagi jika bisa tahu maknanya, akan sangat berarti dalam kehidupan. Namun, seiring dengan berkembangnya berbagai musik modern, saat ini seni macapat kurangdigemari. Berdendang dengan dengan macapat dianggap kuno atau malah katrok. Meskidengan peminat sedikit, macapat masih bertahan. Dan tidak menutup kemungkinan orang kota juga menggemari kesenian macapat, meski yang menggemari sebatas kalangan tua.Karena berasal dari satu pohon, maka tembang Macapat Madura memiliki banyak  persamaan dan kesamaan dengan tembang Macapat Jawa. Keduanya diikat oleh suatu aturantembang, yaitu jumlah gatra (padde) dari masing-masing tembang berbeda, mengikuti aturanguru lagu dan guru wilangan yang sama. Adapun perbedaannya terletak pada syair yangdinyanyikan, pada tembang Macapat Jawa syair mengikuti aturan not balok atau angka,sedangkan di Madura lebih mengutamakan cengkok atau lagu.Jenis tembang Macapat Madura dikategorikan dalam tiga jenis, yaitu tembang raja, tembangtengahan dan tembang Macopat atau tembang kene’. Tembang Macopat atau tembang kene’ada 11 tembang, yang akan dibahas dalam tulisan ini, yaitu ; (1) Salanget (Kinanti), (2) Pucung,(3) Mejil (Medjil), (4) Maskumambang, (5) Durma, (6) Kasmaran (Asmaradana), (7) Pangkor,(8) Senom (Sinom), (9) Artate’ (Dandanggula), (10) Megattro (Megatruh), (11) Gambuh.Ciri-ciri yang membedakan antara tembang yang satu dengan lainnya ;
1. Tembang Salanget (Kinanti), tembang ini melukiskan cerita-cerita percintaan (kasihsayang). Tembang ini mempunyai guru gatra (baris), yang terdiri dari enam baris, baris pertama mempunyai sepuluh suku kata yang berakhir bunyi i (10 i ), kemudian berturut-turut 6o – 10e – 10i – 6i dan 6u.
2. Tembang Pucung. Nama Pucung diambil dari nama biji pohon kepayang, dalamtembang ini terdapat empat gatra (baris) dengan guru wilangan dan guru lagu 12u – 6a – 8i –12a, maksudnya adalah pada baris pertama ada dua belas suku kata dengan vokalakhir u, baris kedua dengan enam suku kata diakhiri vokal a, baris ketiga ada delapansuku kata diakhiri vokal I dan baris keempat terdapat dua belas suku kata diakhiri vokala. watak dari tembang ini adalah sembrana parikena (sembarangan), biasanya dipakaiuntuk menceritakan hal-hal yang ringan, jenaka atau teka-teki.

SUMBER: www.google.com