Gaya hidup tampaknya kerap membebani masyarakat Sumenep untuk menunjukkan
kepada masyarakat lain bahwa mereka mampu melakukan suatu hajatan
besar dalam memeriahkan “perkawinan” anak-anaknya, meski harus dilakukan
jauh jauh hari.
Sebagaimana tradisi pengantin masyarakat Sumenep umumnya, dalam menentukan
perjodohan dumulai dari ngen-angenan atau kabhar,
yaitu orang tua berusaha untuk mencari calon isteri untuk anaknya yang kelak
dan berkeinginan mencari pasangan hidup dengan meminta bantuan kepada seseorang
yang disebut dengan pangade’, kemudian dilanjutkan arabas
paghar, yaitu peran sang pangade’ mencari keterangan calon
pengantin yang diincarnya melalui tetangga atau kerabat, setelah melalui proses
awal yang begitu panjang maka dimulailah proses lanjutan yang disebut masa
bertunangan alias abakalan, lalu nyaba’ jhajan atau
lamaran dan seterusnya sampai pada resepsi perkawinan sebagai kisah diatas.
Namun tidak menutup kemungkian terjadinya perjodohonan ini tanpa
“dibantu” pangade’, tapi kesepakatan secara langsung kedua belah
pihak.
Namun demikian kerap yang terjadi pilihan calon suami atau istri jatuh pada
orang-orang dekat, yaitu keluarga dekat atau famili, bahkan persaudaraan
yang tidak terikat muhrim. Hal ini untuk menjadi kesinambungan kekeluargaan,
dan sudah jelas teruji bebet, bobot dan bibitnya,
serta urusan warisan yang nantinya tidak akan jatuh pada pihak atau keluarga
orang lain.
Mengingat peristiwa ini menjadi gaya hidup, biayanya prosesi akan memakan
nominal cukup besar. Menjadi kebanggaan tersendiri bagi tuan rumah bila pada
saat perayaan macam ini bisa memotong 3 – 5 sapi serta mengundang sekian ratus
bahkan ribu orang untuk hadir dan menyaksikan resepsi pengantin ini.
Namun tentu hajat besar ini tidak dilakukan dengan cara resepsi, namun
umumnya dilakukan dengan mengundang “jam sehari”, yaitu selama
satu hari itu (bahkan sampai 3 hari) terundang bisa hadir setiap saat, pagi,
siang, sore atau malam hari, dengan cara lesehan. Kadang pula
didatangkan pula klenengan dan tayub (tetabuhan gamelan),topeng dhalang,dan
lodrok..

fto tidak ada apa mmng sengaja tidak di ksih
BalasHapus