Anggasuto
merupakan salah satu sisa balatentara Bali yang kalah perang dengan kerajaan
Sumenep yang masih hidup dan melarikan diri ke desa Pinggirpapas dengan
teman-teman balatentaranya yang masih hidup. Mereka mendapatkan pengampunan
dari Raja sumenep untuk tinggal di desa Pinggirpapas dan sejak itulah Anggasuto
dan teman-temannya menjadi cikal bakal dan tokoh masyarakat di desa
Pinggirpapas. Awalnya desa Pinggirpapas merupakan daerah yang sangat tandus. Keadaan geografis desa Pinggirpapas letaknya
di dataran rendah dan berbatasan dengan laut, seringnya air laut menggenangi
desa Pinggirpapas sehingga tidak memiliki sumber air bersih,maka tidak cocok
untuk dijadikan pertanian di bidang agraris oleh masyarakat.
Anggasuto dikatakan sebagai cikal bakal oleh masyarakat desa Pinggirpapas karena telah memberikan pengetahuan bagaimana mengelolah lahan yang tandus dan digenangi oleh air laut menjadi sumber kehidupan dan kesejahteraan masyarakat desa Pinggirpapas sekitar tahun 1568-an. Awal Anggasuto menemukan endapan air laut yang berupa kristal dan ternyata adalah garam, hal ini tentunya Anggasuto dibekali adanya pengetahuan tentang garam. Anggasuto dengan cermat mempelajari proses pengkristalan air laut tersebut dengan keyakinannya bahwa garam ini nantinya memberikan sumber kehidupan bagi masyarakat, maka Anggasuto mencoba membuat garam dari air laut. Proses pembuatan awal, Anggasuto membuat enam kotak yang berisi air laut. Keesokan harinya pada salah satu kotak itu ada warna putih yang mengendap dan mengkristal. Keadaan yang seperti itu berlanjut sehingga keenam kotak tersebut menjadi warna putih yang mengendap dan menkristal. Jadi semua kotak yang dibuat oleh Anggasuto semuanya berhasil. Penggaraman rakyat sampai sekarang ini terdiri dari enam kotak sebagai syarat penggaraman. Masyarakat desa Pinggirpapas meyakini apabila penggaraman tidak terdiri dari enam kotak maka hasil dari penggaraman tidak berhasil. Seterusnya dari kejadian tersebut, Anggasuto bersama-sama masyarakat setempat membuat talangan. Beliau kemudian berkata bahwa kalau bulan depan atau dalam berikutnya air laut dalam talangan itu dapat menjadi garam lagi,beliau akan melakukan Nyadhar (selamatan tasyakuran). Ternyata usaha tersebut tidak sia-sia air laut yang ada dalam talangan menjadi garam. Atas peristiwa-peristiwa tersebut masyarakat Pinggirpapas mengakui bahwa Anggasuto sebagai penemu garam, yaitu sebagai ilmuwan yang mampu mengamati dan memberi pelajaran kepada masyarakat desa Pinggirpapas mengenai cara memproduksi garam.
SUMBER: www.google.com
Anggasuto dikatakan sebagai cikal bakal oleh masyarakat desa Pinggirpapas karena telah memberikan pengetahuan bagaimana mengelolah lahan yang tandus dan digenangi oleh air laut menjadi sumber kehidupan dan kesejahteraan masyarakat desa Pinggirpapas sekitar tahun 1568-an. Awal Anggasuto menemukan endapan air laut yang berupa kristal dan ternyata adalah garam, hal ini tentunya Anggasuto dibekali adanya pengetahuan tentang garam. Anggasuto dengan cermat mempelajari proses pengkristalan air laut tersebut dengan keyakinannya bahwa garam ini nantinya memberikan sumber kehidupan bagi masyarakat, maka Anggasuto mencoba membuat garam dari air laut. Proses pembuatan awal, Anggasuto membuat enam kotak yang berisi air laut. Keesokan harinya pada salah satu kotak itu ada warna putih yang mengendap dan mengkristal. Keadaan yang seperti itu berlanjut sehingga keenam kotak tersebut menjadi warna putih yang mengendap dan menkristal. Jadi semua kotak yang dibuat oleh Anggasuto semuanya berhasil. Penggaraman rakyat sampai sekarang ini terdiri dari enam kotak sebagai syarat penggaraman. Masyarakat desa Pinggirpapas meyakini apabila penggaraman tidak terdiri dari enam kotak maka hasil dari penggaraman tidak berhasil. Seterusnya dari kejadian tersebut, Anggasuto bersama-sama masyarakat setempat membuat talangan. Beliau kemudian berkata bahwa kalau bulan depan atau dalam berikutnya air laut dalam talangan itu dapat menjadi garam lagi,beliau akan melakukan Nyadhar (selamatan tasyakuran). Ternyata usaha tersebut tidak sia-sia air laut yang ada dalam talangan menjadi garam. Atas peristiwa-peristiwa tersebut masyarakat Pinggirpapas mengakui bahwa Anggasuto sebagai penemu garam, yaitu sebagai ilmuwan yang mampu mengamati dan memberi pelajaran kepada masyarakat desa Pinggirpapas mengenai cara memproduksi garam.
SUMBER: www.google.com

Sumber ceritanya dari mana bro?
BalasHapus