Tradisi atau
kebiasaan yang kerap terjadi di tengah masyarakat tradisional, kadang dianggap aneh, tidak lazim
bahkan menjadi lucu. Hal ini pula yang terjadi di masyarakat.
Salah satu kerabat famili dari pihak pengantin wanita,
serta kuda yang akan di arak keliling kampung
serta kuda yang akan di arak keliling kampung
Pangantan jaran yang Diarak
Keramaian di
bawah terop dan suara loudspeeker yang nyaring saja tidaklah
lengkap tanpa diawali dengan arak-arakan sang mempelai. Dimulai dan
diberangkatkan dari rumah besan (mempelai laki-laki) menuju tempat hajatan, maka diarakkan pengantin itu dengan
menunggang kuda, yaitu kuda kenca’ atau kuda serek dengan
iringan musik saronen.
Pada
saat itulah, pergelaran menjadi menarik, sang kudapun menari-nari mengikuti irama
saronen.
Namun kerap
yang terjadi, iringan-iringan itu tidak langsung menuju ke pelaminan, akan
tetapi di arak ke tempat makam para sesepuh (mbah, kakek, nenek,buyut) mereka
untuk minta doa serta restu dari yang sudah meninngal. Konon katanya, mereka
yang sudah meninggal, ikut menyaksikan
pertunjukan pangantan jaran tersebut. Baru pada malam harinya, kedua
mempelalai di didudukkan disinggasana pelaminan.
Ziarah ke makam sesepuh
Uniknya
meski yang punya hajat harus mengeluarkan anggaran cukup besar, namun demikian
secara berlanjut perayaan hajatan pengantin macam itu terus berlangsung dan
sampai sekarang masih tetap berlangsung.
Selain itu, di
desa kalianger timur ada tradisi yang juga menjadi bagian dari proses hajatan
perkawinan, yaitu tradisi tompangan (tumpangan), yaitu
sejumlah pihak (sanak famili, kerabat tetangga, atau terundang) yang dengan
sengaja menyerahkan tumpangan uang (atau bentuk barang: beras, sapi, gula dll)
dengan nominal cukup besar, sehingga suatu saat bila yang menyerahkan tumpangan
itu punya hajat tentu untuk si penerima tumpangan akan mengembalikan senilai
yang diberikan.
Bahkan ini berlaku kepada siapa saja yang terundang apabila patolong (sumbangan)nya
kecil, tentu nanti bila giliran kembaliannya akan kecil pula. Karna dari itu, hajatan besar-besaran sekedar untuk meramaikan “perkawinan” anak-anaknya,
karena investasi yang dimiliki banyak berada di tangan orang lain.
Tarif untuk menyewa kuda sekaligus hiasan berkisar Rp.300.000;
lain dengan perangkat saronennya. Tarif untuk menyewa perangkat saronen Rp.4.000.000; Jadi untuk menyewa semua berkisar Rp.4.300.000;

monggo di komen
BalasHapus